Permendikbud Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Berikut Salinan Permendikbud Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta lampirannya :

Lampiran: 

Jangan Paksakan Anak PAUD Membaca dan Berhitung

 

JAKARTA, PAUDNI. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Sesditjen PAUDNI) Ella Yulaelawati kembali meminta agar pengelola lembaga PAUD tidak memaksakan peserta didik untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memaksakan anak PAUD melakukan calistung justru akan membuat mereka tertekan dan mudah bosan.

Pada beberapa kesempatan, Ella kerap menegaskan bahwa masa usia dini adalah periode anak belajar melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. Oleh sebab itu, calistung pada jenjang PAUD haruslah hanya berupa pengenalan. Itupun dilakukan dengan prinsip bermain yang menyenangkan. “Jangan dorong anak PAUD untuk membaca, menulis dan berhitung,” tegasnya Selasa (5/5).

Metode pembelajaran di PAUD tidak boleh hanya didasarkan pada aspek kognitif atau kemampuan berpikir, namun harus ditekankan pada aspek psikomotorik atau keterampilan dan gerak anak. Perkembangan anak usia lahir hingga 6 tahun lebih baik menekankan pengembangan sikap dan karakter.

Menjelang masa penerimaan peserta didik baru untuk jenjang SD, Ella juga mengingatkan agar sekolah tidak melakukan seleksi berdasarkan kemampuan calistung. Sebab hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan.  

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pasal 69 ayat 5 menyatakan bahwa penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Hanya pertimbangan usia yang perlu dijadikan dasar penerimaan masuk sekolah bagi siswa SD, bukan tes kemampuan akademik. Ayat 4 menyebutkan, SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) tahun sampai dengan 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik.

(Yohan Rubiyantoro/HK)

Karaktervorming dan Sociale Opvoeding, Berikanlah satu hari kepada Keluarga

        Yang dinamakan “keluarga” yaitu kumpulnya beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemulian satu-satunya dan semua anggauta. Didalam persatuan keluarga itu si-bapa dan si-ibulah yang menjadi ketua, si-bapa mendapat bagian urusan umum dan mengenai perhubungan dengan dunia luar, si-ibu berdiri sebagai ketua tentang segala urusan didalam hidup keluarga. Walaupun pada umumnya si-bapa itu berdiri sebagai “ketua umum”, akan tetapi terdapat juga kadang-kadang si-ibulah yang memegang “pusara” (tali, tali kekuasaan) keluarga, boleh jadi menurut adat-istiadat atau berhubungan dengan urusan khusus.

 

Dari situasi cinta kasih inilah si-bapa dan si-ibu lalu dapat menghilangkan segala rasa kemurkaan diri, hingga dapat menghambakan dirinya dengan seikhlas-ikhlasnya kepada keluarganya. Di dalam satu perhambaannya terhadap pada satu persembahan niscayalah mudah lenyapnya egoisme, materialisme dan akibat-akibatnya yang biasa mendatangkan rusaknya kesejahteraan, ketertiban dan kedamaian. Sebaliknya insyaflah bapa dan ibu, bahwa selamat dan bahagianya masing-masing anggauta dari keluarganya itulah akan membawa kenikmatan untuk ibu-bapak dan lain-lain anggauta keluarga.

 

Sesudahnya kita menggambarkan alam keluarga sebagai masyarakat yang terkecil sendiri akan tetapi sudah terwujud tuh bulat dengan bersendi pada kekuatan ibu dan bapa, maka perlulah sekarang kita lihat bagaimanakah hidupnya anggauta-anggauta lain dari keluarga itu, yaitu anak-anak perempuan dan laki-laki yang menjadi rakyatnya msayarakat keluarga itu. Mereka itu tidak berbeda dengan ayah ibunya, terkena juga pengaruhnya cintakasih, yang memenuhi suasana keluarga itu. Cinta-kasih yang dirasainya dan timbul dari segala sikap orang tuanya dengan sendiri menghilangkan segala sifat kemurkaan itu.

 

Tambah-tambah kesucian, keikhlasan, keridlaan dari ibu-bapanya dengan sendiri menghilangkan keinginan atau mendapatkan penguasa atau hak suara pada umumnya, hak mengurus, karena hak ini semua anak sudah memilikinya  dengan tidak meminta. Tak usah diterangkan dengan panjang lebar; kita dapat mengerti dengan nyata, bahwa didalam suasana yang demikian itu semua anak dengan sendiri mulai kecil dapat pengaruh yang sebaik-baiknya, teristimewa pengaruh pendidikan tentang tumbuhnya rasa wajib, rasa perhatian dan rasa cinta-kasih.

 

Berhubungan dengan uraian diatas, mengertilah kita apa sebab hidup keluarga dipentingkan. Umpamanya saja tentang  “internat”. Salah satu daripada aturan dasar yang kita utamakan ialah, bahwa “internat”  (yang namanya sudah kita ganti dengan “pondok-ashrama”) hanya perlu buat anak-anak, yang didalam hidup keluarganya tidak mendapatkan pendidikan yang baik, atau yang terpaksa meninggalkan ibu bapaknya. Jadi pendidikan internat hanya perlu apabila keadaan memaksa.

 

Sebagai orang telah maklum, maka hidupnya sekalian anggautanya Taman Siswa kita atur semacam hidup keluarga, karena hanya itulah jalannya kita akan dapat menciptakan perhubungan yang suci, ikhlas dan normal menurut dasar dan sendi kita. Dan kalau kita merasa girang jika anggauta kita beristeri, bersuami atau beranak, maka tidak lain sebabnya, oleh karena kita pandang hal itu sebagai tanggungan akan bahagianya anggauta-anggauta kita  itu dan akan tambah cocoklah mereka itu untuk menjalankan kewajibannya sebagai guru, yakni kewajiban beramong. Juga aturan kita untuk menempati rumah perguruan kita sebagai rumahnya kyai guru, hingga sedapat-dapatnya mengenai perhiasanpun harus bersifat perhiasan rumah-keluarga (jangan semacam “rumah sekolah” yang tak berjiwa), tidak lain ialah untuk menyokong timbulnya hidup keluarga yang akibatnya amat berfaedah untuk pendidikan seumumnya.

 

Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat "berhamba kepada sang anak" dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih yang tak terbatas.

Sekarang sebaliknya pendidikan yang hanya disandarkan pada aturan "pengajaran" dengan "sistem sekolah". Telah maklumlah jumlah kita semua bahwa udara yang ada di situ hanya udara "intellektualisme", yang sering sekali berjauhan dengan adat kemanusiaan. 
Anak-anak, perempuan maupun laki-laki terasinglah dari kehidupan keluarga, yang sebenarnya harus menjadi “alam persediaan” atau “tangga” untuk masuk ke alam masyarakat lagi atau seringkali mengabaikan dengan terang-terangan, bahkan kadang-kadang merendahkan ibu-bapanya, lalu sikap itu terlihat juga terhadap pada adat kebangsaannya dan  kepada rakyatnya.

Anak-anak kita pada jaman ini gemar sekali pada segala kesenangan yang berhubungan dengan alam sekolahnya, sehingga keperluan keluarga biasanya dikalahkan. Tiap-tiap hari mereka kurang sempat bergaul dengan keluarganya, karena di dalam rumahnya merasa mempunyai alam sendiri, yakni alam “intellektualisme”. Bahkan pada hari liburan Ahadpun mereka tidak dapat bercampur gaul dengan ibu-bapa, akan tetapi malah meninggalkan rumah sehari terus.

Kedua kalinya anak-anak itu terus tidak kenal pada adat istiadat kebangsaanya, hingga hidupnya terlihat terus kaku dan dangkal. Ketiga kalinya anak-anak itu tidak suka melakukan cara hidup yang lazim terpakai, hingga terlihat hanya dapat hidup bersendirian (individualistis), tidak tertarik pada kemasyarakat. Kalau mereka itu menjadi orang dewasa dan harus masuk ke dalam masyarakat, lalu terlihatlah “mentahnya” dan “kakunya” dalam sikap dan tingkahnya terhadap pada masyarakat.

Nyatalah di sini, bahwa anak-anak itu tidak dapat merasakan cinta-kasihnya ibu-bapa dengan secukupnya, perasaan mana sebenarnya amat berfaedah untuk pendidikan kebatinan.

Untuk memperbaiki keadaan yang ganjil dan perlulah kita mengembalikan anak-anak itu ke dalam alam keluarganya. Berilah pelajaran tentang segala keperluan keluarga pada mereka pada waktu sepulangnya dari sekolah. Sebaiknya usaha ini dimulaikan dengan menyerahkan hari libur Ahad kepada hidup keluarganya. Segala pertemuan, kepanduan dan lain-lainya jangan diberikan pada hari Ahad. Ambilah buat keperluan itu hari lain, misalnya hari Rabu atau hari Sabtu sore. 

Sekali lagi: Berikanlah hari Ahad kepada keluarga untuk dipergunakan memberi pengaruh-keluarga kepadanya! Kembalikanlah si-anak ke dalam hidup keluarganya! Jangan merampas anak dari keluarganya!

~Ki Hadjar Dewantara - Oktober 1937
 
image : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fd/
COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Onderwijzend_personeel_van_het_
Nationaal_Onderwijs_Instituut_Taman_Siswo_te_Yogyakarta_Java_TMnr_10002264.jpg

Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Lingkungan PP PAUDNI Ungaran


Ungaran, 2/5/2015. Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2015 di lingkungan Pusat Pengembangan Pendididikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal Regional II Ungaran diikuti oleh semua karyawan, bertindak sebagai Pembina Ade Kusmiadi, M.Pd. Upacara yang dilaksanakan dihalaman kantor PP PAUDNI Ungaran berjalan dengan hikmat. Adapun pesan yang disampaikan oleh Pembina upacara yaitu sambutan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Anies Baswedan. Berikut adalah isi sambutan :

 

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015

Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Di hari yang berbahagia ini, kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, kita panjatkan puji dan syukur. Atas izin, rahmat, dan karunia-Nya, kita semua berkesempatan untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional ini.

Di Hari Pendidikan ini, atas nama pemerintah, izinkan saya menyampaikan apresiasi pada semua pihak, pada semua pelaku pendidikan dimanapun berada, yang telah ambil peran aktif untuk mencerdaskan saudara sebangsa. Untuk para pendidik di semua jenjang, yang telah bekerja keras membangkitkan potensi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter mulia, yang mampu meraih cita-cita dan menjadi pembelajar sepanjang hidup, terimalah salam hormat dan apresiasi dari kita semua. Bapak, Ibu dan Hadirin yang mulia, Republik tercinta ini digagas oleh anak-anak muda terdidik dan tercerahkan. Pendidikan telah membukakan mata dan kesadaran mereka untuk membangun sebuah negeri Bhineka yang modern. Sebuah negara yang berakarkan adat dan budaya bangsa nusantara, beralaskan semangat gotong royong, tapi tetap mengedepankan dan menumbuhkembangkan prinsip kesejajaran dan kesatuan sebagi sebuah negara modern.

 

Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral. Persinggungan dengan pendidikanlah yang telah memungkinkan para perintis kemerdekaan untuk memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya. Gagasan dan perjuangan yang membuat Indonesia dijadikan sebagai rujukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan di Afrika. Dunia terpesona pada Indonesia, bukan saja karena keindahan alamnya, atau keramahan penduduknya, atau keagungan budayanya, tetapi juga karena deretan orang-orang terdidiknya yang berani mengusung ide-ide terobosan dengan ditopang pilar moral dan intelektual.

Indonesia adalah negeri penuh berkah. Di tanah ini, setancapan ranting bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang. Alam subur, laut melimpah, apalagi bila melihat mineral, minyak, gas, hutan dan semua deretan kekayaan alam. Indonesia adalah wajah cerah khatulistiwa. Namun kita semua harus sadar bahwa asset terbesar Indonesia bukan tambang, bukan gas, bukan minyak, bukan hutan ataupun segala macam hasil bumi; asset terbesar bangsa ini adalah manusia Indonesia.Tanggung jawab kita sekarang adalah mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Jangan sesekali kita mengikuti jalan berpikir kaum kolonial di masa lalu. Fokus mereka, kaum kolonial itu, adalah pada kekayaan alam sajadan tanpa peduli pada kualitas manusianya. Kaum kolonial memang datang untuk mengeruk dan menyedot isi bumi Nusantara, menguras hasil bumi Nusantara karena itu mereka peduli dan tahu persis data kekayaan alam kita, tetapimereka tak pernah peduli dengan kualitas manusia di Nusantara.

 

Kini kita sudah 70 tahun merdeka. Kemerdekaan itu bukan hanya untuk menggulung kolonialisme, melainkan juga untuk menggelar kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai kita hanya tahu tentang kekayaan alam tetapi tidak tahu kualitas manusia di negeri kita. Kita harus berkonsetrasi pada peningkatan dan pengembangan kualitas manusia. Kita tidak boleh mengikuti jalan berpikir kaum kolonial yang terfokus hanya pada kekayaan alam tetapi melupakan soal kualitas manusia. Mari kita jawab, tahukah kita berapa jumlah sekolah, jumlah guru, jumlah siswa, jumlah perguruan tinggi di daerah kita? Tahukah kita berapa banyak anak-anak di wilayah kita yang terpaksa putus sekolah? Tahukah kita tentang kondisi guru-guru di sekolah yang mengajar anak-anak kita? Tahukah kita tentang tantangan yang dihadapi oleh kepala sekolah dan guru untuk memajukan sekolahnya?

Lebih jauh lagi, berjuta jumlahnya putra-putri Indonesia yang kini telah berhasil meraih kesejahteraan. Pada kita yang telah sejahtera itu, jelas terlihat bahwa pendidikan adalah hulunya. Karena pendidikanlah maka terbuka peluang untuk hidup lebih baik. Pendidikan itu seperti tangga berjalan yang mengantarkan kita meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik. Pertanyaannya, sudahkah kita menengok sejenak pada dunia pendidikan yang telah mengantarkan kita sampai pada kesejahteraan yang lebih baik? Pernahkah kita mengunjungi sekolah kita dulu? Pernahkah kita menyapa, bertanya kabar dan kondisi, serta berucap terima kasih pada guru-guruyang mendidik kita dulu? Pernahkah kita menyapa kembali dan menyampaikan terima kasih pada dosen-dosen kita? Bagi kita yang kini berkiprah di luar dunia pendidikan, mari kita luangkan perhatian. Mari ikut terlibat memajukan pendidikan. Mari kita ikut iuran untuk membuat generasi anak-anak kita bisa meraih yang jauh lebih baik dari yang berhasil diraih generasi ini. Dan, iuran paling mudah adalah kehadiran. Datangi sekolah, datangi guru, datangi anak-anak pelajar lalu terlibat untuk berbagi, untuk menginspirasi dan terlibat untuk ikut memajukan dunia pendidikan kita. Bapak, Ibu dan Hadirin yang berbahagia, Wajah masa depan kita berada di ruang-ruang kelas. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung-jawab membentuk masa depan itu hanya berada di pundak pendidik dan tenaga kependidikan di institusi pendidikan. Secara konstitusional, mendidik adalah tanggung jawab negara namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Mengembangkan kualitas manusia Indonesia harus dikerjakan sebagai sebuah gerakan bersama. Semuaharus ikut peduli, bahu membahu, saling sokong dan topang untuk memajukan kualitas manusia Indonesia lewat pendidikan.

Oleh karena itu, Bapak, Ibu dan Hadirin sekalian, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini kita mengambil tema „Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila‟.

 

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Gerakan”. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Karena itu pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Kita harus mengajak semua elemen masyarakat untuk terlibat. Kita mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan seluruh elemen bangsa: masyarakat merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia bisnis peduli, dan ormas/LSM mengorganisasi. Berbeda dengan sekadar “program” yang perasaan memiliki atas kegiatanhanya terbatas pada para pelaksana program, sebuah “gerakan” justru ingin menumbuhkan rasa memiliki pada semua kalangan. Mari kita ajak semua pihak untuk merasa peduli, untuk merasa memiliki atas problematika pendidikan agar semua bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika itu.


Gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila adalah sebuah ikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya karakter Pancasila dalam pendidikan kita. Sudah digariskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Itulah karakter Pancasila yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional kita.

Menumbuhkembangkan potensi anak didik seperti itu memerlukan karakteristik pendidik dan suasana pendidikan yang tepat. Disinilah Bapak, Ibu dan Hadirin sekalian, peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi amat relevan untuk mengingatkan kembali tentang karakteristik pendidik dan suasana pendidikan. Peringatan hari pendidikan tak bisa lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, yang pada tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia itu. Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah dengan istilah “Taman”. Taman adalah tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati, berada di taman juga dengan senang hati dan pada saat harus meninggalkan taman maka anak akan merasa berat hati. Pertanyaannya, sudahkah sekolah kita menjadi seperti taman? Sudahkah sekolah kita mejadi tempat belajar yang menyenangkan?

 

Sekolah menyenangkan memiliki berbagai karakter, diantaranya adalah; sekolah yang melibatkan semua komponennya, baik guru, orang tua, siswa dalam proses belajarnya; sekolah yang pembelajarannya relevan dengan kehidupan; sekolah yang pembelajarannya memiliki ragam pilihan dan tantangan, dimana individu diberikan pilihan dan tantangan sesuai dengan tingkatannya; sekolah yang pembelajarannya memberikan makna jangka panjang bagi peserta didiknya. Di hari Pendidikan Nasional ini, mari kita kembalikan semangat dan konsep Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Sebuah wahana belajar yang membuat para pendidik merasakan mendidik sebagai sebuah kebahagiaan. Sebuah wahana belajar yang membuat para peserta didik merasakan belajar sebagai sebuah kebahagiaan. Pendidikan sebagai sebuah kegembiraan. Pendidikan yang menumbuh-kembangkan potensi peserta didik agar menjadi insan berkarakter Pancasila.

Ikhtiar besar kita untuk pendidikan ini hanya akan bisa terwujud bila kita semua terus bekerja keras dan makin membuka lebar-lebar partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pendidikan. Mulai hari ini


kita harus mengubah perspektif, bahwa pendidikan bukan hanya urusan kedinasan di pemerintahan,melainkan juga urusan kita dan ikhtiar memajukan pendidikan adalah juga tanggung jawab kita semua. Mari kita teruskan kerja keras, kerja bersama dan kerja sama ini. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu membimbing kita agar dapat meraih dan melampauicita-cita bangsa kita tercinta. Selamat Hari Pendidikan Nasional, jayalah Indonesia. Wassalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

Jakarta, 2 Mei 2015 Anies Baswedan 

 

BERANI JUJUR DALAM UJIAN

Ada kabar baik dalam pelaksanaan ujian nasional siswa sekolah menengah atas (SMA) kali ini. Apresiasi patut diberikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu poin yang menarik, ujian tidak mutlak menjadi penentu kelulusan. Ini melegakan, karena memang mustahil meringkas performa siswa selama tiga tahun masa belajar hanya dalam tiga hari ujian.


Ujian kali ini juga menerapkan terobosan yang membesarkan hati. Ada 585 sekolah dari ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia yang menyelenggarakan ujian secara online, dengan koneksi Internet. Ujian online jauh lebih hemat, tanpa jutaan lembar kertas, tanpa ongkos distribusi. Dan, yang lebih penting, ujian online juga lebih aman. Murid dibekali kata kunci (password), dan hanya dia sendiri yang bisa membuka naskah ujian. Terobosan ini layak diperluas sampai ke seluruh Indonesia, dengan syarat perbaikan infrastruktur pendukung.


Sayangnya, di tengah kemajuan itu, tetap saja kebocoran terjadi. Federasi Guru Seluruh Indonesia (FGSI) melaporkan adanya jual-beli kunci soal ujian dengan nilai Rp 14-21 juta. Juga dilaporkan ada guru yang mengunduh 25 jenis soal ujian melalui lemari virtual Google Drive. Kendati jumlah variasi soal ujian ada 11.730 paket dan yang bocor di Google Drive “hanya” 25 jenis paket (0,0021 persen), tetap saja kebocoran ini mengecewakan.

Benar, secara keseluruhan, FGSI juga mendeteksi turunnya kuantitas kecurangan. Tahun ini jumlah laporan yang diterima FGSI ada 91 kasus, jauh menurun dibanding tahun lalu, yang mencapai 304 laporan. Kecurangan tertinggi, menurut data FGSI, terjadi pada 2013 dengan 1.035 laporan kecurangan ujian nasional.

Kebocoran ini membuktikan bahwa, apa pun sistemnya, baik dengan kertas maupun digital, tetap ada risiko bocor. Seketat apa pun pengawasan, distribusi dikawal puluhan batalion polisi, misalnya, mustahil membuat kebocoran menjadi nol. Sistem dan metode bisa dibuat super-canggih, tapi manusia di balik sistem yang harus ditingkatkan kualitasnya. Pengawasan harus berlipat-lipat.


Mata rantai ujian nasional memang panjang. Semua yang terlibat, dari pembuat soal, pengawas, guru, kepala sekolah, sampai pegawai percetakan, berpotensi menjadi pembocor. Karena itu, penegakan hukum menjadi kunci mutlak untuk menegaskan bahwa negara ini tidak menenggang kecurangan ujian.
Tak bisa kita biarkan murid-murid sekolah merajut hari depan bangsa ini melalui jalan curang. Siapa pun yang terbukti menjadi biang kerok pembocor harus dihukum berat.

Baik pula kita dorong rencana Menteri Pendidikan Anies Baswedan untuk menerapkan indeks kejujuran. Sejauh ini baru ada 52 kabupaten/kota (12,5 persen dari 400-an kabupaten/kota) dengan indeks kejujuran 90. Ini berarti mayoritas siswa di wilayah itu menjalani ujian dengan jujur. Jangkauan indeks kejujuran dan integritas ini harus diperluas di dunia pendidikan. Caranya, antara lain, dengan memberi penghargaan kepada sekolah yang berani tertular dan menularkan virus penting: virus berani jujur. (sumber Editorial TEMPO)

Sumber image : http://cdn.tmpo.co/data/2015/04/14/id_389188/389188_620