Mendikbud Lantik Enam Pejabat Eselon I

Jakarta-PAUDNI. “ Mereka yang dilantik hari ini adalah mereka yang berkarir bersama dengan bapak-bapak dan ibu sekalian, mereka meniti karir dari bawah bahkan ada sebagian dari mereka memulai karirnya sebagai pegawai honorer,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies R Baswedan saat melantik enam pejabat Eselon I di lingkungan Kemendikbud. Rabu (17/6)
Keenam pejabat tersebut mayoritas menjabat eselon 1 atau 2 di lingkungan kerja Kemendikbud, yaitu : Didik Suhardi sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pembinaan SMP dilantik sebagai Sekretaris Jenderal. Sumarna Supranata, sebelumnya menjabat sebagai Direktur PTK Dikdas dilantik sebagai Direktur Jenderal Guru dan Pendidik, Tenaga Kependidikan;
Harris Iskandar, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pembinaan SMA dilantik sebagai Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat. Hamid Muhammad, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dilantik sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Totok Suprayitno sebelumnya menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian, dilantik sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Daryanto sebagai Inspektur Jenderal.
Oleh sebab itu Mendikbud berpesan kepada seluruh pegawai dan pimpinan di lingkungan Kemendikbud, untuk bekerja dengan dengan baik dan bekerja keras serta berintegritas maka kita akan mencapai puncak, karena menurut Mendikbud keenam pejabat ini telah melalui proses yang bisa dievaluasi dan dipertanggungjawabkan."
Pelantikkan perdana dimasa kerja Mendikbud Anies Baswedan berbeda dari pelantikan sebelumnya yang biasanya dilaksanakan di ruangan tertutup, kini berlokasi di Plaza Insani gd. A Komplek Perkantoran Kemendikbud, berlangsung hadapan pegawai Kemendikbud yang akan menjadi tim kerja masing-masing pejabat yang baru saja dilantik tersebut
Pada pelantikkan tersebut turut hadir pimpinan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR-RI), Inspektur Utama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (KPPN – Bappenas) Slamet Darsono, dan Sekjen Kemenpan RB. (M.husnul Farizi/HK)

Pemeran Pendidikan dan Kebudayaan dalam Rangka Hardiknas dan OSN 2015

(foto:jendra)


Yogyakarta, Kemendikbud --- Pemeran Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka memeriahkan puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2015 telah dibuka. Pameran tersebut diselenggarakan di Lapangan Parkir Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Jumat s.d. Minggu, 22 s.d. 24 Mei 2015. 
 
"Dengan mengucapkan Bismillahirohmanirohim, saya nyatakan penyelenggaraan pameran Hardiknas dan OSN tahun 2015 secara resmi dibuka," demikian disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kacung Marijan selaku ketua penyelenggara Hardiknas 2015, pada acara pembukaan Pameran Hardiknas dan OSN 2015, Jumat (22/05/2015). 
 
Kacung mengatakan, puncak peringatan Hardiknas 2015 ditempatkan di D.I. Yogyakarta karena keinginan kembali melakukan intropeksi bahwa di Yogyakarta tempat lahirnya tokoh besar pendidikan dan kebudayaan Ki Hadjar Dewantara. "Kita perlu meneladani Ki Hadjar Dewantara yang penuh mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan kebudayaan di Indonesia," tuturnya. 
 
Pada kesempatan ini tengah dilaksanakan juga OSN tahun 2015 yang akan ditutup
 
penyelenggaraannya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, pada hari Sabtu (23/05/3015). "Oleh karena di Yogyakarta juga diselenggarakan OSN, maka pameran hari ini juga dilaksanakan untuk memeriahkan pelaksanaan OSN," jelas Kacung. 
 
Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Ari Santoso dalam laporannya menjelaskan, pameran menampilkan 65 stan dengan peserta dari unit utama di lingkungan Kementeria Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus pendidikan dasar dan pendikan menengah, serta lembaga Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI). Peserta pameran tersebut menghadirkan informasi dan produk unggula masing-masing.
 
Selain itu pameran turut dimeriahkan oleh berbagai  perguruan tinggi, industri telekomunikasi, dan penerbit buku. Ari menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta (DIY), khususnya Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi DIY dan seluruh peserta pameran, panitia, serta berbagai pihak yang turut membantu memeriahkan pameran pendidikan dan kebudayaan. (Seno Hartono)

Jangan Paksakan Anak PAUD Membaca dan Berhitung

 

JAKARTA, PAUDNI. Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Sesditjen PAUDNI) Ella Yulaelawati kembali meminta agar pengelola lembaga PAUD tidak memaksakan peserta didik untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memaksakan anak PAUD melakukan calistung justru akan membuat mereka tertekan dan mudah bosan.

Pada beberapa kesempatan, Ella kerap menegaskan bahwa masa usia dini adalah periode anak belajar melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. Oleh sebab itu, calistung pada jenjang PAUD haruslah hanya berupa pengenalan. Itupun dilakukan dengan prinsip bermain yang menyenangkan. “Jangan dorong anak PAUD untuk membaca, menulis dan berhitung,” tegasnya Selasa (5/5).

Metode pembelajaran di PAUD tidak boleh hanya didasarkan pada aspek kognitif atau kemampuan berpikir, namun harus ditekankan pada aspek psikomotorik atau keterampilan dan gerak anak. Perkembangan anak usia lahir hingga 6 tahun lebih baik menekankan pengembangan sikap dan karakter.

Menjelang masa penerimaan peserta didik baru untuk jenjang SD, Ella juga mengingatkan agar sekolah tidak melakukan seleksi berdasarkan kemampuan calistung. Sebab hal tersebut tidak sesuai dengan peraturan.  

Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pasal 69 ayat 5 menyatakan bahwa penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Hanya pertimbangan usia yang perlu dijadikan dasar penerimaan masuk sekolah bagi siswa SD, bukan tes kemampuan akademik. Ayat 4 menyebutkan, SD/MI atau bentuk lain yang sederajat wajib menerima warga negara berusia 7 (tujuh) tahun sampai dengan 12 (dua belas) tahun sebagai peserta didik.

(Yohan Rubiyantoro/HK)

Permendikbud Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Berikut Salinan Permendikbud Nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta lampirannya :

Lampiran: 

Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Lingkungan PP PAUDNI Ungaran


Ungaran, 2/5/2015. Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2015 di lingkungan Pusat Pengembangan Pendididikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal Regional II Ungaran diikuti oleh semua karyawan, bertindak sebagai Pembina Ade Kusmiadi, M.Pd. Upacara yang dilaksanakan dihalaman kantor PP PAUDNI Ungaran berjalan dengan hikmat. Adapun pesan yang disampaikan oleh Pembina upacara yaitu sambutan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Anies Baswedan. Berikut adalah isi sambutan :

 

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI Pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015

Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Di hari yang berbahagia ini, kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih, kita panjatkan puji dan syukur. Atas izin, rahmat, dan karunia-Nya, kita semua berkesempatan untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional ini.

Di Hari Pendidikan ini, atas nama pemerintah, izinkan saya menyampaikan apresiasi pada semua pihak, pada semua pelaku pendidikan dimanapun berada, yang telah ambil peran aktif untuk mencerdaskan saudara sebangsa. Untuk para pendidik di semua jenjang, yang telah bekerja keras membangkitkan potensi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter mulia, yang mampu meraih cita-cita dan menjadi pembelajar sepanjang hidup, terimalah salam hormat dan apresiasi dari kita semua. Bapak, Ibu dan Hadirin yang mulia, Republik tercinta ini digagas oleh anak-anak muda terdidik dan tercerahkan. Pendidikan telah membukakan mata dan kesadaran mereka untuk membangun sebuah negeri Bhineka yang modern. Sebuah negara yang berakarkan adat dan budaya bangsa nusantara, beralaskan semangat gotong royong, tapi tetap mengedepankan dan menumbuhkembangkan prinsip kesejajaran dan kesatuan sebagi sebuah negara modern.

 

Pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral. Persinggungan dengan pendidikanlah yang telah memungkinkan para perintis kemerdekaan untuk memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya. Gagasan dan perjuangan yang membuat Indonesia dijadikan sebagai rujukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan di Afrika. Dunia terpesona pada Indonesia, bukan saja karena keindahan alamnya, atau keramahan penduduknya, atau keagungan budayanya, tetapi juga karena deretan orang-orang terdidiknya yang berani mengusung ide-ide terobosan dengan ditopang pilar moral dan intelektual.

Indonesia adalah negeri penuh berkah. Di tanah ini, setancapan ranting bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang. Alam subur, laut melimpah, apalagi bila melihat mineral, minyak, gas, hutan dan semua deretan kekayaan alam. Indonesia adalah wajah cerah khatulistiwa. Namun kita semua harus sadar bahwa asset terbesar Indonesia bukan tambang, bukan gas, bukan minyak, bukan hutan ataupun segala macam hasil bumi; asset terbesar bangsa ini adalah manusia Indonesia.Tanggung jawab kita sekarang adalah mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Jangan sesekali kita mengikuti jalan berpikir kaum kolonial di masa lalu. Fokus mereka, kaum kolonial itu, adalah pada kekayaan alam sajadan tanpa peduli pada kualitas manusianya. Kaum kolonial memang datang untuk mengeruk dan menyedot isi bumi Nusantara, menguras hasil bumi Nusantara karena itu mereka peduli dan tahu persis data kekayaan alam kita, tetapimereka tak pernah peduli dengan kualitas manusia di Nusantara.

 

Kini kita sudah 70 tahun merdeka. Kemerdekaan itu bukan hanya untuk menggulung kolonialisme, melainkan juga untuk menggelar kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai kita hanya tahu tentang kekayaan alam tetapi tidak tahu kualitas manusia di negeri kita. Kita harus berkonsetrasi pada peningkatan dan pengembangan kualitas manusia. Kita tidak boleh mengikuti jalan berpikir kaum kolonial yang terfokus hanya pada kekayaan alam tetapi melupakan soal kualitas manusia. Mari kita jawab, tahukah kita berapa jumlah sekolah, jumlah guru, jumlah siswa, jumlah perguruan tinggi di daerah kita? Tahukah kita berapa banyak anak-anak di wilayah kita yang terpaksa putus sekolah? Tahukah kita tentang kondisi guru-guru di sekolah yang mengajar anak-anak kita? Tahukah kita tentang tantangan yang dihadapi oleh kepala sekolah dan guru untuk memajukan sekolahnya?

Lebih jauh lagi, berjuta jumlahnya putra-putri Indonesia yang kini telah berhasil meraih kesejahteraan. Pada kita yang telah sejahtera itu, jelas terlihat bahwa pendidikan adalah hulunya. Karena pendidikanlah maka terbuka peluang untuk hidup lebih baik. Pendidikan itu seperti tangga berjalan yang mengantarkan kita meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik. Pertanyaannya, sudahkah kita menengok sejenak pada dunia pendidikan yang telah mengantarkan kita sampai pada kesejahteraan yang lebih baik? Pernahkah kita mengunjungi sekolah kita dulu? Pernahkah kita menyapa, bertanya kabar dan kondisi, serta berucap terima kasih pada guru-guruyang mendidik kita dulu? Pernahkah kita menyapa kembali dan menyampaikan terima kasih pada dosen-dosen kita? Bagi kita yang kini berkiprah di luar dunia pendidikan, mari kita luangkan perhatian. Mari ikut terlibat memajukan pendidikan. Mari kita ikut iuran untuk membuat generasi anak-anak kita bisa meraih yang jauh lebih baik dari yang berhasil diraih generasi ini. Dan, iuran paling mudah adalah kehadiran. Datangi sekolah, datangi guru, datangi anak-anak pelajar lalu terlibat untuk berbagi, untuk menginspirasi dan terlibat untuk ikut memajukan dunia pendidikan kita. Bapak, Ibu dan Hadirin yang berbahagia, Wajah masa depan kita berada di ruang-ruang kelas. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa tanggung-jawab membentuk masa depan itu hanya berada di pundak pendidik dan tenaga kependidikan di institusi pendidikan. Secara konstitusional, mendidik adalah tanggung jawab negara namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Mengembangkan kualitas manusia Indonesia harus dikerjakan sebagai sebuah gerakan bersama. Semuaharus ikut peduli, bahu membahu, saling sokong dan topang untuk memajukan kualitas manusia Indonesia lewat pendidikan.

Oleh karena itu, Bapak, Ibu dan Hadirin sekalian, peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini kita mengambil tema „Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila‟.

 

Kata kunci dari tema tersebut adalah “Gerakan”. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Karena itu pendidikan tidak bisa dipandang sebagai sebuah program semata. Kita harus mengajak semua elemen masyarakat untuk terlibat. Kita mendorong pendidikan menjadi gerakan semesta, yaitu gerakan yang melibatkan seluruh elemen bangsa: masyarakat merasa memiliki, pemerintah memfasilitasi, dunia bisnis peduli, dan ormas/LSM mengorganisasi. Berbeda dengan sekadar “program” yang perasaan memiliki atas kegiatanhanya terbatas pada para pelaksana program, sebuah “gerakan” justru ingin menumbuhkan rasa memiliki pada semua kalangan. Mari kita ajak semua pihak untuk merasa peduli, untuk merasa memiliki atas problematika pendidikan agar semua bersedia menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan problematika itu.


Gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila adalah sebuah ikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya karakter Pancasila dalam pendidikan kita. Sudah digariskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Itulah karakter Pancasila yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional kita.

Menumbuhkembangkan potensi anak didik seperti itu memerlukan karakteristik pendidik dan suasana pendidikan yang tepat. Disinilah Bapak, Ibu dan Hadirin sekalian, peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi amat relevan untuk mengingatkan kembali tentang karakteristik pendidik dan suasana pendidikan. Peringatan hari pendidikan tak bisa lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, yang pada tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia itu. Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah dengan istilah “Taman”. Taman adalah tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati, berada di taman juga dengan senang hati dan pada saat harus meninggalkan taman maka anak akan merasa berat hati. Pertanyaannya, sudahkah sekolah kita menjadi seperti taman? Sudahkah sekolah kita mejadi tempat belajar yang menyenangkan?

 

Sekolah menyenangkan memiliki berbagai karakter, diantaranya adalah; sekolah yang melibatkan semua komponennya, baik guru, orang tua, siswa dalam proses belajarnya; sekolah yang pembelajarannya relevan dengan kehidupan; sekolah yang pembelajarannya memiliki ragam pilihan dan tantangan, dimana individu diberikan pilihan dan tantangan sesuai dengan tingkatannya; sekolah yang pembelajarannya memberikan makna jangka panjang bagi peserta didiknya. Di hari Pendidikan Nasional ini, mari kita kembalikan semangat dan konsep Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Sebuah wahana belajar yang membuat para pendidik merasakan mendidik sebagai sebuah kebahagiaan. Sebuah wahana belajar yang membuat para peserta didik merasakan belajar sebagai sebuah kebahagiaan. Pendidikan sebagai sebuah kegembiraan. Pendidikan yang menumbuh-kembangkan potensi peserta didik agar menjadi insan berkarakter Pancasila.

Ikhtiar besar kita untuk pendidikan ini hanya akan bisa terwujud bila kita semua terus bekerja keras dan makin membuka lebar-lebar partisipasi masyarakat untuk terlibat aktif dalam pendidikan. Mulai hari ini


kita harus mengubah perspektif, bahwa pendidikan bukan hanya urusan kedinasan di pemerintahan,melainkan juga urusan kita dan ikhtiar memajukan pendidikan adalah juga tanggung jawab kita semua. Mari kita teruskan kerja keras, kerja bersama dan kerja sama ini. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu membimbing kita agar dapat meraih dan melampauicita-cita bangsa kita tercinta. Selamat Hari Pendidikan Nasional, jayalah Indonesia. Wassalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

Jakarta, 2 Mei 2015 Anies Baswedan