Karaktervorming dan Sociale Opvoeding, Berikanlah satu hari kepada Keluarga

        Yang dinamakan “keluarga” yaitu kumpulnya beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang khak, pun berkehendak juga bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk kemulian satu-satunya dan semua anggauta. Didalam persatuan keluarga itu si-bapa dan si-ibulah yang menjadi ketua, si-bapa mendapat bagian urusan umum dan mengenai perhubungan dengan dunia luar, si-ibu berdiri sebagai ketua tentang segala urusan didalam hidup keluarga. Walaupun pada umumnya si-bapa itu berdiri sebagai “ketua umum”, akan tetapi terdapat juga kadang-kadang si-ibulah yang memegang “pusara” (tali, tali kekuasaan) keluarga, boleh jadi menurut adat-istiadat atau berhubungan dengan urusan khusus.

 

Dari situasi cinta kasih inilah si-bapa dan si-ibu lalu dapat menghilangkan segala rasa kemurkaan diri, hingga dapat menghambakan dirinya dengan seikhlas-ikhlasnya kepada keluarganya. Di dalam satu perhambaannya terhadap pada satu persembahan niscayalah mudah lenyapnya egoisme, materialisme dan akibat-akibatnya yang biasa mendatangkan rusaknya kesejahteraan, ketertiban dan kedamaian. Sebaliknya insyaflah bapa dan ibu, bahwa selamat dan bahagianya masing-masing anggauta dari keluarganya itulah akan membawa kenikmatan untuk ibu-bapak dan lain-lain anggauta keluarga.

 

Sesudahnya kita menggambarkan alam keluarga sebagai masyarakat yang terkecil sendiri akan tetapi sudah terwujud tuh bulat dengan bersendi pada kekuatan ibu dan bapa, maka perlulah sekarang kita lihat bagaimanakah hidupnya anggauta-anggauta lain dari keluarga itu, yaitu anak-anak perempuan dan laki-laki yang menjadi rakyatnya msayarakat keluarga itu. Mereka itu tidak berbeda dengan ayah ibunya, terkena juga pengaruhnya cintakasih, yang memenuhi suasana keluarga itu. Cinta-kasih yang dirasainya dan timbul dari segala sikap orang tuanya dengan sendiri menghilangkan segala sifat kemurkaan itu.

 

Tambah-tambah kesucian, keikhlasan, keridlaan dari ibu-bapanya dengan sendiri menghilangkan keinginan atau mendapatkan penguasa atau hak suara pada umumnya, hak mengurus, karena hak ini semua anak sudah memilikinya  dengan tidak meminta. Tak usah diterangkan dengan panjang lebar; kita dapat mengerti dengan nyata, bahwa didalam suasana yang demikian itu semua anak dengan sendiri mulai kecil dapat pengaruh yang sebaik-baiknya, teristimewa pengaruh pendidikan tentang tumbuhnya rasa wajib, rasa perhatian dan rasa cinta-kasih.

 

Berhubungan dengan uraian diatas, mengertilah kita apa sebab hidup keluarga dipentingkan. Umpamanya saja tentang  “internat”. Salah satu daripada aturan dasar yang kita utamakan ialah, bahwa “internat”  (yang namanya sudah kita ganti dengan “pondok-ashrama”) hanya perlu buat anak-anak, yang didalam hidup keluarganya tidak mendapatkan pendidikan yang baik, atau yang terpaksa meninggalkan ibu bapaknya. Jadi pendidikan internat hanya perlu apabila keadaan memaksa.

 

Sebagai orang telah maklum, maka hidupnya sekalian anggautanya Taman Siswa kita atur semacam hidup keluarga, karena hanya itulah jalannya kita akan dapat menciptakan perhubungan yang suci, ikhlas dan normal menurut dasar dan sendi kita. Dan kalau kita merasa girang jika anggauta kita beristeri, bersuami atau beranak, maka tidak lain sebabnya, oleh karena kita pandang hal itu sebagai tanggungan akan bahagianya anggauta-anggauta kita  itu dan akan tambah cocoklah mereka itu untuk menjalankan kewajibannya sebagai guru, yakni kewajiban beramong. Juga aturan kita untuk menempati rumah perguruan kita sebagai rumahnya kyai guru, hingga sedapat-dapatnya mengenai perhiasanpun harus bersifat perhiasan rumah-keluarga (jangan semacam “rumah sekolah” yang tak berjiwa), tidak lain ialah untuk menyokong timbulnya hidup keluarga yang akibatnya amat berfaedah untuk pendidikan seumumnya.

 

Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat "berhamba kepada sang anak" dengan semurni-murninya dan seikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih yang tak terbatas.

Sekarang sebaliknya pendidikan yang hanya disandarkan pada aturan "pengajaran" dengan "sistem sekolah". Telah maklumlah jumlah kita semua bahwa udara yang ada di situ hanya udara "intellektualisme", yang sering sekali berjauhan dengan adat kemanusiaan. 
Anak-anak, perempuan maupun laki-laki terasinglah dari kehidupan keluarga, yang sebenarnya harus menjadi “alam persediaan” atau “tangga” untuk masuk ke alam masyarakat lagi atau seringkali mengabaikan dengan terang-terangan, bahkan kadang-kadang merendahkan ibu-bapanya, lalu sikap itu terlihat juga terhadap pada adat kebangsaannya dan  kepada rakyatnya.

Anak-anak kita pada jaman ini gemar sekali pada segala kesenangan yang berhubungan dengan alam sekolahnya, sehingga keperluan keluarga biasanya dikalahkan. Tiap-tiap hari mereka kurang sempat bergaul dengan keluarganya, karena di dalam rumahnya merasa mempunyai alam sendiri, yakni alam “intellektualisme”. Bahkan pada hari liburan Ahadpun mereka tidak dapat bercampur gaul dengan ibu-bapa, akan tetapi malah meninggalkan rumah sehari terus.

Kedua kalinya anak-anak itu terus tidak kenal pada adat istiadat kebangsaanya, hingga hidupnya terlihat terus kaku dan dangkal. Ketiga kalinya anak-anak itu tidak suka melakukan cara hidup yang lazim terpakai, hingga terlihat hanya dapat hidup bersendirian (individualistis), tidak tertarik pada kemasyarakat. Kalau mereka itu menjadi orang dewasa dan harus masuk ke dalam masyarakat, lalu terlihatlah “mentahnya” dan “kakunya” dalam sikap dan tingkahnya terhadap pada masyarakat.

Nyatalah di sini, bahwa anak-anak itu tidak dapat merasakan cinta-kasihnya ibu-bapa dengan secukupnya, perasaan mana sebenarnya amat berfaedah untuk pendidikan kebatinan.

Untuk memperbaiki keadaan yang ganjil dan perlulah kita mengembalikan anak-anak itu ke dalam alam keluarganya. Berilah pelajaran tentang segala keperluan keluarga pada mereka pada waktu sepulangnya dari sekolah. Sebaiknya usaha ini dimulaikan dengan menyerahkan hari libur Ahad kepada hidup keluarganya. Segala pertemuan, kepanduan dan lain-lainya jangan diberikan pada hari Ahad. Ambilah buat keperluan itu hari lain, misalnya hari Rabu atau hari Sabtu sore. 

Sekali lagi: Berikanlah hari Ahad kepada keluarga untuk dipergunakan memberi pengaruh-keluarga kepadanya! Kembalikanlah si-anak ke dalam hidup keluarganya! Jangan merampas anak dari keluarganya!

~Ki Hadjar Dewantara - Oktober 1937
 
image : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fd/
COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Onderwijzend_personeel_van_het_
Nationaal_Onderwijs_Instituut_Taman_Siswo_te_Yogyakarta_Java_TMnr_10002264.jpg

BERANI JUJUR DALAM UJIAN

Ada kabar baik dalam pelaksanaan ujian nasional siswa sekolah menengah atas (SMA) kali ini. Apresiasi patut diberikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Salah satu poin yang menarik, ujian tidak mutlak menjadi penentu kelulusan. Ini melegakan, karena memang mustahil meringkas performa siswa selama tiga tahun masa belajar hanya dalam tiga hari ujian.


Ujian kali ini juga menerapkan terobosan yang membesarkan hati. Ada 585 sekolah dari ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia yang menyelenggarakan ujian secara online, dengan koneksi Internet. Ujian online jauh lebih hemat, tanpa jutaan lembar kertas, tanpa ongkos distribusi. Dan, yang lebih penting, ujian online juga lebih aman. Murid dibekali kata kunci (password), dan hanya dia sendiri yang bisa membuka naskah ujian. Terobosan ini layak diperluas sampai ke seluruh Indonesia, dengan syarat perbaikan infrastruktur pendukung.


Sayangnya, di tengah kemajuan itu, tetap saja kebocoran terjadi. Federasi Guru Seluruh Indonesia (FGSI) melaporkan adanya jual-beli kunci soal ujian dengan nilai Rp 14-21 juta. Juga dilaporkan ada guru yang mengunduh 25 jenis soal ujian melalui lemari virtual Google Drive. Kendati jumlah variasi soal ujian ada 11.730 paket dan yang bocor di Google Drive “hanya” 25 jenis paket (0,0021 persen), tetap saja kebocoran ini mengecewakan.

Benar, secara keseluruhan, FGSI juga mendeteksi turunnya kuantitas kecurangan. Tahun ini jumlah laporan yang diterima FGSI ada 91 kasus, jauh menurun dibanding tahun lalu, yang mencapai 304 laporan. Kecurangan tertinggi, menurut data FGSI, terjadi pada 2013 dengan 1.035 laporan kecurangan ujian nasional.

Kebocoran ini membuktikan bahwa, apa pun sistemnya, baik dengan kertas maupun digital, tetap ada risiko bocor. Seketat apa pun pengawasan, distribusi dikawal puluhan batalion polisi, misalnya, mustahil membuat kebocoran menjadi nol. Sistem dan metode bisa dibuat super-canggih, tapi manusia di balik sistem yang harus ditingkatkan kualitasnya. Pengawasan harus berlipat-lipat.


Mata rantai ujian nasional memang panjang. Semua yang terlibat, dari pembuat soal, pengawas, guru, kepala sekolah, sampai pegawai percetakan, berpotensi menjadi pembocor. Karena itu, penegakan hukum menjadi kunci mutlak untuk menegaskan bahwa negara ini tidak menenggang kecurangan ujian.
Tak bisa kita biarkan murid-murid sekolah merajut hari depan bangsa ini melalui jalan curang. Siapa pun yang terbukti menjadi biang kerok pembocor harus dihukum berat.

Baik pula kita dorong rencana Menteri Pendidikan Anies Baswedan untuk menerapkan indeks kejujuran. Sejauh ini baru ada 52 kabupaten/kota (12,5 persen dari 400-an kabupaten/kota) dengan indeks kejujuran 90. Ini berarti mayoritas siswa di wilayah itu menjalani ujian dengan jujur. Jangkauan indeks kejujuran dan integritas ini harus diperluas di dunia pendidikan. Caranya, antara lain, dengan memberi penghargaan kepada sekolah yang berani tertular dan menularkan virus penting: virus berani jujur. (sumber Editorial TEMPO)

Sumber image : http://cdn.tmpo.co/data/2015/04/14/id_389188/389188_620

Pelatihan Fungsional Penilik

 

Ungaran 13/4/2015, Dalam rangka Pelatihan Fungsional Penilik, PP-PAUDNI Semarang Bidang Fasilitasi Sumber Data Manusia mengundang fungsional penilik guna mengikuti pelatihan yang diadakan di kantor PP PAUDNI Regional II Semarang, Jl. Diponegoro no 250 Ungaran. Kegiatan Pelatihan Fungsional Penilik di laksanakan mulai tanggal 13 April s.d 18 April 2015. Dalam kegiatan tersebut materi yang akan disampaikan diantaranya : 

1. Kebijakan Dirjen PAUDNI yang disampaikan oleh Kepala Pusat PP PAUDNI Regional II Semarang Dr. Ade Kusmiadi

2. Kebijakan Mutu dan SOP (Standart Operation Prosedure) oleh Kepala Bidang FSDM dan Sarpras, Drs. Eko Sumardi, M.Pd

3. Uraian Jabatan Fungsional Penilik dan Angka Kreditnya oleh Eni Suryaningsih, S.Pd

4. Pengendalian Mutu Program PAUDNI oleh Drs. Trismanto

5. Evaluasi Dampak Program PAUDNI oleh Prof. SUkestiarno

6. Penilian Angka Kredit terhadap pengembangan Profesi oleh Ari Sulistiyo, S.Pd

7. Penghitungan Angka Kredit dan Penyusunan Dupak oleh Mulyadi, S.Pd. M.Si

8. Standar Progam PAUDNI oleh Dra. Budi Sri Hastuti

 

Kegiatan Pelatihan Fungsional Penilik difasilitasi oleh seksi FSDM PP PAUDNI Regional II Semarang, diharapkan dengan adanya pelitahan fungsional penilik, penilik dapat memahami semua materi dan melaksanakan pekerjaan sebagai penilik dengan baik sehingga dapat mendukung dalam tercapainya program PAUDNI kepada masyarakat.

KOORDINASI DAN SINKRONISASI KEBIJAKAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM PAUD TINGKAT NASIONAL TAHUN 2015

Dalam rangka mendukung kebijakan pembinaan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang terarah, terpadu dan terkoordinasi, pada tahun 2012 kementerian pendidikan dan kebudayaan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Tersebut Menegaskan bahwa pengelola PAUD baik formal, non formal, maupun informal, berada dibawah Pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (DItjen PAUDNI), yang secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Salah satu tugas dan fungsi Direktorat Pembinaan PAUD adalah melaksanakan koordinasi pelaksanaan kebijakan bidang Pendidikan Anak Usia Dini. Kebijakan-kebijakan PAUD tersebut terutama untuk mendukung perluasan akses secara peningkatan mutu layanan PAUD secara lebih terarah dan terpadu melalui berbagai program peningkatan kapasitas layanan PAUD diseluruh tanah air.

Dalam rangka memperluas akses layanan PAUD tersebut hingga menjangkau seluruh Lapisan Masyarakat , Pemerintah terus berupaya untuk memberikan perhatian terhadap penyelenggaraan Program PAUD. Salah satu bentuk upaya pemerintah tersebut adalah Program Satu Desa Satu PAUD dengan harapan adanya pembentukan satuan PAUD baru aka nada peningkatan pemerataan terhadap akses layananan PAUD.

Disamping Program-program tersebut tentunya hamper semua program pada tahun sebelumnya masih dilanjutkan, termasuk dimunculkannya kembali Bantuan Rehabilitasi/ Renovasi Gedung PAUD dan Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) Gedung PAUD.

Selain itu ada beberapa kebijakan pemerintah lainnya yang sangat perlu untuk dikoordinasikan bersama para pemangku kepentingan lainnya, antara lain :

1.       Telah disahkannya DIPA Satker Direktorat Pembinaan PAUD oleh Kementerian Keuangan tahun 2015

2.       Adanya perubahan mekanisme penyaluran bantuan program PAUD tahun 2015 kepada masyarakat, terutama terkait perubahan akun belanja bantuan (Selain bantuan BOP PAUD) yang semula termasuk kelompok akun belanja bantuan sosial (57) menjadi kelompok akun belanja barang (52)

3.       Pengalihan sebagian besar pengelolaan bantuan rintisan PAUD Baru dan bantuan APE PAUD yang semula di Pusat menjadi dekosentrasi (diprovinsi)

 

Oleh karena hal-hal tersebut diatas, maka Direktorat Pembinaan PAUD memandang perlu melaksanakan kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dan Pelaksanaan Program PAUD Tingkat Nasional Tahun 2015.

 

Pelaksanaan Koordinasi dan Sinkronisasi Kebijakan dan Pelaksanaan Program PAUD Tingkat Nasional Tahun 2015 dilakukan dan dilaksanakan di 3 lokasi :

1.       Regional I Tanggal 1 s.d. 4 April 2015 di PP-PAUDNI Regional 1 Jayagiri, Bandung

2.       Regional II Tanggal 7 s.d. 10 April 2015 di BP-PAUDNI Regional III Panakukang, Makasar

3.       Regional III Tanggal 14 s.d. 17 April 2015 di PP-PAUDNI Regional II Ungaran, Semarang

 

Tujuan kegiatan :

1.       Melakukan sosialisasi kebijakan program PAUD pada tahun 2015 serta petunjuk teknis program PAUD tahun 2015

2.       Menyusun strategi pelaksanaan Program PAUD, terutama dalam rangka penyaluran bantuan PAUD tahun 2015

3.       Menyusun jadwal pelaksanaan Program PAUD tahun 2015

 

Hasil yang diharapkan :

1.       Tersosialisasinya kebijakan program PAUD dan adanya komitmen pelaksanaan Program PAUD tahun 2015 sesuai kebijakan dan petunjuk teknis yang ada.

2.       Strategi pengelolaan Program PAUD Provinsi dan kab/kota terkait dengan mekanisme penyaluran dana bantuan PAUD tahun 2015

 

3.       Adanya jadwal pelaksanaan kegiatan Program PAUD Tahun 2015 yang dapat dijadikan acuan pelaksanaan kegiatan.

FGD Pemetaan Mutu PAUDNI th 2015

Ungaran 30/3/2015, Pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion) Pemetaan Mutu PAUDNI th 2015 yang diadakan oleh Seksi Informasi dan Kerjasama mulai tangal 30 maret  s.d 1 April 2015 di Gedung PP PAUDNI dibuka oleh Kepala Puat PP PAUDNI Regional II Semarang, Dr. Ade Kusmiadi  yang diwakili oleh Kepala Bidang Program dan Informasi, Drs. Suka M.Pd.

Kegiatan FGD Pemetaan Mutu PAUDNI di ikuti oleh Petugas Pemetaan Mutu PAUDNI di wilayah Propinsi Jawa tengah, D.I. Yogyakarta dan Propinsi Lampung, Kegiatan FGD Pemetaan Mutu PAUDNI ini dilaksanakan dalam rangka sosialisasi instrument dan teknis pelaksanaan pemetaan mutu dilapangan nantinya. Pada pelaksanaan pemetaan mutu PAUDNI, pengisian instrument pemetaan mutu PAUDNI dilakukan secara online pada aplikasi pemetaan mutu PAUDNI pada alamat web www.paudni.kemdikbud/pemetaanmutu  Pemetaan ini diharapkan dapat berfungsi ganda sebagai acuan dalam melakukan evaluasi diri di tingkat satuan PAUDNI serta sekaligus memetakan mutu pendidikan pada tingkat pusat maupun daerah. Pada pelaksanaan Pemetaan Mutu PAUDNI Besarnya jumlah satuan pendidikan yang menjadi sasaran pemetaan mutu tahun 2015 adalah meliputi satuan lembaga PAUDNI di Propinsi Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta dan Propinsi Lampung.

Tujuan Pelaksanaan FGD Pemetaan Mutu PAUDNI satuan PAUDNI untuk memberikan acuan dan arah kegiatan para pelaksana sehingga pemetaan mutu PAUDNI dapat dilakukan dengan cepat, akurat, akuntabel dan berkesinambungan.

Sasaran Pemetaan program Pemetaan Mutu PAUDNI melibatkan seluruh satuan lembaga PAUDNI. Dengan demikian dengan adanya Workshop FGD Pemetaan Mutu PAUDNI semoga pelaksanaan program Pemetaan Mutu PAUDNI dilapangan bisa terlaksana dengan baik dan sesuai dengan harapan program PAUDNI dalam rangka memetaan mutu program PAUDNI.