3 Mei " Hari Pers Sedunia (World Press Day)"

World Press Freedom Day diadakan oleh PBB untuk meningkatkan kesadaran kebebasan pers dan mengingatkan pemerintah akan tugas mereka untuk peduli dan menghargai kebebasan berekspresi sesuai dengan artikel 19 dari Universal Declaration of Human Rights.
Peringatan ini mulai dilakukan oleh PBB pada tahun 1993. Dipilihnya tanggal 3 Mei, juga sebagai Declaration of Windhoek, sebuah pernyataan prinsip kebebasan pers yang dibuat oleh Jurnalist Surat Kabar Afrika di tahun 1991.
UNESCO menandai World Press Freedom Day dengan mempersembahkan UNESCO/Guillermo Cano World Press Freedom Prize kepada individu, organisasi atau lembaga yang memberikan kontribusinya untuk mempertahankan atau mempromosikan kebebasan pers di mana saja di seluruh dunia, terutama mereka yang harus berhadapan dengan bahaya. Dimulai di tahun 1997, penghargaan ini direkomendasikan oleh juru independent dari 14 wartawan profesional. Nama-nama kandidat diusulkan oleh LSM kebebasan pers regional dan internasional dan negara-negara anggota UNESCO.
Penghargaan tersebut dinamakan Guilermo Cano, sebagai penghargaan untuk Guilermo Cano Isaza, seorang wartawan Colombia yang terbunuh di depan kantornya, El Espectador, di Bogota, pada 17 Desember 1986. Cano telah menulis mengenai kekuatan mafia obat-obatan Colombia.

 

 

 

Biografi R.A. Kartini

 

Biografi R.A Kartini - Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang 
tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.


Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Referensi :
- http://chrissanta.wordpress.com
- http://www.dapunta.com/raden-ajeng-kartini-1879-1904.html

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-ra-kartini.html

- http://en.wikipedia.org/wiki/Kartini#/media/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Hari_Kartini_TMnr_60033701

- http://en.wikipedia.org/wiki/Kartini

 

Jadi Juara Berkat ”Bawor Kekepan” Slamet Sularto, Terbaik I Kepala SKB Nasional

SEJAK ditetapkan sebagai wakil Jawa Tengah dalam ajang Apresiasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) PAUDNI Kemdikbud, membuat Slamet Sularto, kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Purwokerto, terpaksa harus bolak-balik Purwokerto-Semarang.

Dua bulan sebelum lomba tingkat nasional yang digelar 9-15 Agustus lalu di Hotel Grand Royal Panghegar Bandung, ia harus rela meninggalkan tugas kantor dan keluarga untuk menjalani pelatihan di ibu kota Jateng tersebut. ”Biasanya Senin dinihari saya berangkat ke Semarang. Dalam sepekan, selama lima hari penuh saya menjalani pelatihan di sana.

Jumat malam baru pulang ke Purwokerto. Praktis rutinitas itu saya lakoni dua bulan penuh,” ungkap pria yang mengawali karirnya sebagai penilik pendidikan masyarakat tersebut, kemarin. Dalam masa pelatihan ia beserta wakil dari Jateng yang lain mendapatkan bimbingan langsung dari tenaga ahli di bidang PTK PAUDNI. Mereka adalah Tri Joko Rahardjo (Dosen PLS Unnes), Subiantoro (Dosen Jurusan Bahasa Indonesia Unnes), dan Edi S (Dosen PLS Unnes).

”Di samping mendapatkan pelatihan tentang materi yang dilombakan, kami juga mendapatkan pelatihan tentang sikap dan tingkah laku saat presentasi materi, cara berjalan hingga cara berbicara,” ujar pria bertubuh jangkung tersebut. Kendati harus berkonsentrasi penuh dan harus meninggalkan keluarga yang ada di Banyumas, namun perjuangannya tidak sia-sia.

Buktinya ia mampu menyabet predikat sebagai Terbaik I Lomba Karya Nyata Kepala SKB Nasional. Dia mampu mengungguli peserta dari provinsi lain. ”Pesertanya dari 34 provinsi. Adapun tim juri guru besar dan praktisi di bidang PAUDNI. Mereka adalah Sukestiyarno (Akademisi Unnes), serta Samosir dan Sumanto (praktisi PAUDNI),” terangnya.

Dia menjelaskan, satu bulan sebelum lomba digelar, seluruh peserta harus sudah menyerahkan naskah karya nyata ke panitia lomba Kemdikbud. Adapun naskah karya nyata yang ia serahkan berjudul ”Bawor Kekepan” Strategi Pengelolaan SKB yang Efektif untuk Mendukung Optimalisasi Program PAUDNI.

Sebenarnya kosa kata ”Bawor Kekepan” merupakan kependekan dari ”Bekerja sama dengan Warga dan Organisasi Mitra untuk Dapat Melakukan Pemenuhan Kesenjangan antara Keadaan yang ada dan Keadaan yang Seharusnya.””Ide muncul sejak tahun 2000 lalu saat saya masih menjabat Kepala SKB Ajibarang. Saat itu menjelang masa transisi otonomi daerah.

Ketika itu SKB menjadi unit pelaksana teknis Direktorat Pendidikan Luar Sekolah Depdikbud,” terang warga Ajibarang itu. (Budi Setyawan-17,58)

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/jadi-juara-berkat-baworkekepan/

Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2015

 

Ungaran, 20/4/2015 Dalam rangka peningkatan mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PTK PAUDNI) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2007 memberikan penghargaan kepada PTK PAUDNI yang berprestasi pada kegiatan Apresiasi PTK PAUDNI Berprestasi dari Tingkat Kab/Kota, Provinsi sampai tingkat Nasional.

 

Kegiatan Apresiasi PTK PAUDNI bertujuan untuk memotivasi para PTK PAUDNI dalam berkarya, mengemukakan gagasan/ide yang inovatif dan berprestasi dalam mendukung pelaksanaan tugas sehari-hari sebagai PTK PAUDNI. Kegiatan ini meliputi Lomba Karya Nyata (LKN), Lomba Karya Tulis (LKT).

 

Tema Kegiatan ini “Melalui Apresiasi Kita Wujudkan PTK PAUDNI yang berkarakter dan Profesional”.

Apresiasi PTK PAUDNI dilaksanakan mulai tanggal 20 s.d. 23 April 2015, bertempat di 2 (dua) lokasi :

·         LPMP Jawa Tengah

·         PP PAUDNI Regional II Ungaran

Adapun tahapan penilain serta ketentuan khusus tata tertib lomba kegiatan Apresisasi PTK PAUDNI tetuang dalam Panduan kegiatan yang telah dimiliki oleh para peserta.

Semoga semua rangkaian acara dapat berjalan lancer dan sesuai dengan harapan.

Kategori Lomba :

1.       Lomba Karya Nyata (LKN)

2.       Lomba Karya Tulis (LKT)

Peserta Lomba :

1.       PTK PAUD : Pendidik PAUD (KB/TPA/SPS), Pengelola PAUD (KB/TPA/SPS)

2.       PTK Kursus dan Pelatihan : Instruktur kursus otomotif, Intruktur kursus tata boga, Instruktur kursus rias penganten, Instruktur kursus tata busana, instruktur kursus komputer, Instruktur kursus baby sitter, Pengelola LKP (Top Manajer)

 

3.       PTK DIKMAS : Pamong belajar, Penilik, Pengelola PKBM, Pengelola TBM, Tutor Pendidikan Keaksaraan, Kepala SKB

Pengelola PKBM Di Solo Jadi Nominator Kick Andy Heroes

Sarjoko (batik coklat) menerima bantuan motor baca dari RC Solo

Pengelola PKBM Ar Ridho di Solo terpilih sebagai nominator program Kick Andy Heroes. Lembaga Pendidikan Nonformal yang dikelola oleh Sarjoko tersebut dinilai berkontribusi besar terhadap pemberdayaan masyarakat

Kick Andy Heroes adalah penghargaan kepada para pahlawan yang umumnya datang dari kalangan biasa. Bahkan cenderung dari kalangan yang secara ekonomi sangat terbatas. Tetapi justru dalam keterbatasan itulah mereka melakukan hal-hal besar yang tidak semua orang terpanggil untuk melakukannya

Sarjoko kini lebih dikenal masyarakat Indonesia. Sajoko harus bersaing dengan 9 Nominator lainnya dalam ajang Kick Andy Heroes Award. Pemenang penghargaan tersebut rencananya akan diberikan pada tanggal 1 Maret 2014.

Sekilas sosok Sarjoko

Siapa yang mengira pria 45 tahun, yang hanya berprofesi sebagai sopir dan buruh dapat merubah satu desa. Dari desa yang lebih dikenal sebagai tempat prostitusi menjadi desa yang yang bebas dari PSK. Selain itu dia juga berupaya untuk mengembalikan PSK ke jalur sosial yang normal.

Desa Silir pada tahun 1980 an merupakan suatu tempat yang legal untuk  kegiatan prostitusi. Namun, kondisi Silir saat ini sudah jauh berbeda. Silir telah menjadi suatu daerah pemukiman baru yang mulai diminati oleh warga solo.

Sarjoko mengatakan bahwa dulu saat bersekolah, sering diejek sebagai anak dari Silir, yang waktu itu mempunyai makna negatif. Sarjoko mendapat ejekan dan hinaan tidak satu atau dua kali bahkan berkali-kali. Hal serupa juga terjadi istri dan anak-anaknya ketika di sekolah. Bahkan beberapa diantara teman-teman anaknya ada yang berhenti sekolah karena tidak kuat.

“Saya yakin bisa mengubah Silir menjadi lebih baik, jadi kenapa saya harus marah,” katanya. Dengan berbekal tekad dan keyakinan serta semangat yang kuat, Sarjoko mulai melakukan perubahan pada Silir. Istri Sarjoko serta anak-anaknya turut memberikan dukungan moril kepada Ayahnya.

Berkat dukungan do’a dan dukungan dari berbagai Kementerian/ Instansi dan pihak-pihak lainnya, Silir sekarang telah berubah dari kampung prostitusi menjadi kampung pendidikan. “Semoga hal ini menjadi motivasi untuk teman-teman pengelola PKBM, untuk selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” ujar Sarjoko. Selain itu juga sebagai motivasi dalam memajukan pendidikan nonformal dan informal (PNFI).

 

Untuk mendukung Sarjoko menjadi mendapatkan Kick Andy Heroes Award caranya  cukup mudah dengan mengklik link : http//www.kickandy.com/heroes/site/profil/04 lalu pilih “Sarjoko”, klick ‘PILIH’ (dibagian bawah kanan foto Bapak Sarjoko, berwarna merah). Isi Biodata lengkap anda lalu klick ‘PILIH HEROES’ dibagian bawah form voting. (Teguh susanto/HK)

http://www.paudni.kemdikbud.go.id/sosok-sarjoko-berjuang-demi-silir-habis-gelap-terbitlah-terang/